Sainvisma (Desain Visual Jenama) tidak lahir sekadar sebagai program akademik periodik, melainkan sebuah manifestasi dari visi besar penguatan ekosistem digital kreatif yang berdampak luas dan berkelanjutan. Dari sebuah inisiasi ruang kelas di Sekolah Vokasi, Sainvisma kini telah bertransformasi menjadi peta jalan riset strategis regional yang mensinergikan peningkatan portofolio mahasiswa dengan akselerasi daya saing UMKM.
Rekam Jejak Sainvisma
Program Sainvisma diinisiasi pertama kali oleh Ahmad Ramdhani seorang akademisi dan praktisi di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV). Latar belakang pembentukan program ini didorong oleh tantangan nyata di lapangan dengan fenomena masih banyak pelaku UMKM lokal di Kota Tegal dan sekitarnya yang memiliki produk unggulan luar biasa, namun terhambat oleh keterbatasan akses pasar digital akibat lemahnya tata kelola branding dan adopsi visual digital. Di sisi lain, pendidikan vokasi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang adaptif. Melalui integrasi konsep Outcome-Based Education (OBE) dan Community Service, Ahmad Ramdhani merancang Sainvisma sebagai sebuah program Project-Based Learning (PjBL) lintas mata kuliah untuk melatih mahasiswa bertindak langsung sebagai creative content creator agency yang memecahkan masalah riil industri dan masyarakat.
Roadmap Penelitian Strategis Sainvisma (2026–2030
Sainvisma melangkah lebih jauh dari program pembelajaran menjadi sebuah basis riset ilmiah yang terstruktur. Melalui publikasi internasional pada International Journal of Multidisciplinary Sciences and Arts (IJMDSA) di awal 2026, model interaksi Pentahelix Sainvisma resmi menjadi fondasi utama bagi Roadmap Penelitian Strategis Sainvisma (2026–2030) yang dirancang secara sistematis untuk menjawab tantangan keberlanjutan masa depan: